Indonesia Harus Teap Waspadai Pelemahan Ekonomi Dunia.

ilustrasi (foto: kemenkeu.go.id)

Indonesia perlu melakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya pelemahan kinerja perekonomian dunia akibat inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga, walau pun perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang positif dilihat dari mobilitas masyarakat yang sudah berada di atas level pandemi.

Demikian yang dikatakan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati beberapa hari lalu.

Sri Mulyani menyatakan, kinerja Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur secara global mengalami penurunan dari 51,1 ke 50,3. Namun jika dilihat dari negara G20 dan ASEAN, hanya sejumlah 24 persen negara yang aktifitas PMI nya mengalami akselerasi dan ekspansi dibandingkan bulan – bulan sebelumnya. Negara tersebut diantaranya adalah Indonesia, Rusia, Arab Saudi, Vietnam, Filipina dan Thailand.

“Negara-negara seperti Amerika, Jepang, India, Malaysia, Brazil Australia, Singapura, dan Afrika Selatan 32 persen PMI-nya mengalami perlambatan, atau kondisinya turun levelnya dari bulan sebelumnya. Bahkan 40 persen negara-negara ini, yaitu Eropa, Jerman, Italia, Inggris, Korsel, Kanada, Meksiko, Spanyol, dan Turki, sekarang PMI sudah masuk kepada level kontraksi”, tambah Menkeu seperti yang dikutip dari kemenkeu.go.id.

Sampai dengan semester 1 Tahun 2022 ini, level dari GDP sudah 7,1 persen di atas level sebelum terjadinya pandemi. Sementara kinerja perekonomian Indonesia sampai dengan bulan Agustus 2022 juga semakin membaik, yaitu tumbuh hingga 5,4 persen. 

Pemulihan kinerja ekonomi Indonesia tentunya tidak lepas dari dukungan di berbagai sektor, diantaranya kinerja ekspor yang cukup impresif, sehinga mencatatkan surplus pada neraca perdagangan mencapai USD 5,76 miliar hingga Agustus 2022.  

Dari sisi penjualan ritel, Indonesia juga tercatat cukup kuat pertumbuhannya di angka di 5,4 persen. Indeks PMI ekspansif di angka 51,7, pertumbuhan konsumsi listrik mencapai 24,1 persen, pertumbuhan pada sektor industri sebesar 11,2 persen, serta pertumbuhan pada kapasitas produksi manufaktur dan pertambangan menunjukkan level optimis. (*)

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments