Pengusaha Rotan Cirebon Terkena Dampak Perang Rusia Ukraina

Produk rotan siap eksport dari Cirebon (foto: hbl)

Pengusaha rotan di Cirebon, turut merasakan dampak dari perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Dampak perang ini melebihi dampak dari pandemi Covid-19.  Demikian yang dikatakan oleh Sales Manager Mulya Rotan, Rohmat, kepada klimaks.id, beberapa hari lalu di ruang kerjanya di kota ini.

“Tahun ini order relatif turun dibandingkan periode yang sama tahun – tahun sebelumnya. Pada saat kami mengikuti pameran, memang banyak bertemu buyers, namun belum ada kepastian order. Pada awal- awal pandemi, kami tidak begitu terpengaruh. Namun yang terasa berat ketika perang Rusia dan Ukraina seperti sekarang ini“, tuturnya.

Kendala lain yang dihadapi oleh industri rotan di Cirebon menurut Rohmat adalah terus meningkatnya harga bahan baku. Sejak sebelum kenaikan harga BBM, harga bahan baku setiap bulan selalu mengalami peningkatan. Akibat kenaikan ini, biaya produksi semakin membengkak dan margin semakin menipis.

“Kendala berikutnya adalah masalah harga Ocean Freight yang tinggi. Akibat harganya terlalu mahal, buyers enggan menarik kontainer. Di tempat kami banyak sekali produk jadi yang menumpuk belum terkirim karena kendala harga Ocean Freight”, tambahnya.

Para buyers, lanjut Rohmat, menunggu biaya turun ke harga Ocean Freight yang ideal. Harapannya segera turun, agar produk rotan yang sudah ready bisa segera dikirim. Jika terlalu lama stay di pabrik, berpotensi merusak produk – produk tersebut.

Produk Mulya Rotan Cirebon mayoritas diserap oleh pasar internasional, didominasi oleh Spanyol, Jerman, Israel dan Italia. Sementara yang diserap oleh pembeli lokal hanya 10 hingga 20 persen saja. (hbl)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments