Tenun Silungkang Terus berbenah Untuk Masuk Pasar Global

Ketua Dekranasda Kota Sawahlunto dr. Meivyta Deri Asta tengah menjelaskan proses pembuatan kain tenun songket SIlungkang kepada klimaks.id (foto: hen)

Sumatera Barat bukan hanya dikenal dengan kulinerya yang lezat dan panorama alamnya yang indah, namun dikenal juga  dengan kain songketnya. Industri tenun songket yang ada di propinsi ini terpusat di Silungkang, kota Sawahlunto.

Kain tenun SIlungkang memiliki sejarah yang panjang. Menurut Ketua Dekranasda Kota Sawahlunto dr. Meivyta Deri Asta kepada klimaks.id beberapa hari lalu, kain tenun ini sudah ada sejak tahun 1300an dan berkembang di era kolonial Belanda. Kain songket Silungkang bahkan pernah mendapat mendapat penghargaan dari Ratu Belgia pada tahun 1910, sebagai hasil karya terbaik.

Sampai saat ini, kain songket Silungkang masih dipergunakan untuk acara – acara yang bersifat formal, seperti acara pernikahan atau acara resmi lainnya.

“Kain songket sudah sangat menyatu dengan masyarakat Minangkabau, terutama di Sawahlunto, karena motif – motif yang ada di kain ini mencerminkan budaya dan adat minang itu sendiri. Misalnya pada motif pucuk rabuang. Motif ini menggambarkan orang Minang memiliki sikap yang tegak lurus dalam menegakkan kebenaran”, jelas Meivyta.

Ketika ditanya tentang pemasaran produk tenun Silungkang ini, ia mengakui bahwa mayoritas pola penjualannya masih konvensional seperti penjualan di took – took. Namun pihaknya tidak pernah absen mengikuti pameran – pameran baik di tingkat propinsi mau pun nasional. “Maret mendatang kami juga akan hadir di pameran Inacraft di Jakarta.

“Namun kami juga mengupayakan jalur marketing melalui media online, baik itu website mau pun media sosial”, tuturnya lagi.

Ditambahkan oleh Meivyta, sebenarnya peminat kain songket SIlungkang sangat banyak, tidak hanya terbatas di Sumatera Barat saja, melainkan juga di luar Indonesia. Paling Banyak adalah Negara jiran Malaysia.

Kendala

Ketua Dekranasda Sawahlunto juga mengakui pihaknya masih menemui kendala dalam mengembangkan industry kain tenun songket ini. Diantaranya adalah dari pengadaan benang. Saat ini di propinsi Sumatera Barat belum ada pabrik benang. Jadi para pelaku industry tenun songket di SIlungkang saat ini masih bergantung pada pasokan dari Bandung dan Pekalongan.

“Kendala itu terasa sekali pada saat pandemi covid-19 yang lalu, dimana kami merasakan tersendatnya pasokan baik dari volume mau pun distribusinya. Sehingga ini berdampak pada proses produksi kami. Jumlah produk yang dihasilkan saat itu juga menjadi berkurang”, tambahnya.

Selain itu, lanjut Meivyta, kendala lain adalah masalah perijinan ke negaara tujuan ekport. Ia menegaskan pihaknya akan secepatnya mengatasi permasalahan ini, sehingga proses eksport kain tenun SIlungkang akan berjalan lancer dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Pada kesempatan itu, Meivyta juga mengajak para penggemar fashion dan wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat agar mampir ke SIlungkang. “Mari kita majukan produk – produk dalam negeri”, pungkasnya. (dianaS)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments