Filosofi Lampion Menurut Maha Bikhsu Dutavira Mahasthavira

Ilustrasi (foto :hen)

Dalam menyambut Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh banyak lampion yang dinyalakan. Baik di Vihara, Kelenteng mau pun kediaman pribadi. Lampion tersebut bukan hanya sekedar hiasan, melainkan memiliki filosofi tersendiri.

Demikian dikatakan oleh Y.A. Maha Bikhsu Dutavira Mahasthavira kepada klimaks.id Sabtu (5/2) petang di Vihara Avalokitesvara, Jalan Mangga Besar Raya no 58, Jakarta Barat.

Menurut Maha Bikhsu Dutavira, pada awal tahun seperti sekarang ini, menyalakan lampion, pelita, bahkan lilin – lilin mengandung makna menyalakan pelita hati. Bagi warga masyarakat Tionghoa, pelita hati itu sangat penting sekali. Menyalakan pelita hati pada awal tahun berarti meningkatkan motivasi.

Setiap melihat lampion, lilin mau pun pelita  yang terpasang, akan menjadi motivasi bagi manusia untuk selalu menyalakan pelita hatinya.

“Bila hati seseorang buta atau tidak bangkit, maka yang bersangkutan akan mudah terbawa arus negatif serta terpengaruh oleh kabar atau berita yang belum pasti kebenarannya. Jika harus mengambil keputusan, maka keputusan yang bersangkutan akan salah”, katanya.

Sebaliknya, jika pelita hati tetap menyala maka dalam kehidupan sehari – hari seperti berkomunikasi, bersahabat akan berlangsung lancar. Dalam mengambil keputusan pun, baik itu di bidang bisnis bahkan bidang politik dipastikan tidak akan meleset.

Setiap orang, lanjut Maha Bikhu Dutavira pasti akan menjumpai masalah.Namun jika pelita hati sudah terang benderang, maka setiap orang akan mampu melewati setiap permasalahan dengan sukacita.

Pelita hati yang menyala juga dipastikan akan menciptakan kerukunan dalam keluarga. Komunikasi akan lebih baik dan muncul saling pengertian. (hen)

 

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments