Menjelajahi Keraton Kasepuhan Cirebon (Bagian I)

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan Cirebon boleh disebut sebagai keraton yang tertua di Indonesia, karena lahirnya keraton ketika kerajaan Hindu Pajajaran dan Majapahit masih berdiri. Para sejarawan dan budayawan memperkirakan Keraton Kasepuhan berdiri sekitar tahun 1430.  Hal ini  ditunjukkan dengan terdapat bangunan yang sangat tua di keraton ini. Bentuk bangunannya berseni arsitektur Candi Bentar karena pada masa itu, yaitu pada abad pertengahan, sedang populer bangunan semacam ini.

 Keraton Cirebon didirikan oleh para wali, maka sejarah Keraton Kasepuhan tidak terlepas dari sosok Syarif Hidayatullah, seorang penyebar agama Islam, Syarif Hidayatullah adalah anak dari Nyi Mas Raran Santang. Hal ini berarti, pendiri Keraton Kasepuhan ini adalah cucu dari Raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi. Ayah dari Syarif Hidayatullah adalah Syarif Abdullah, salah satu raja di Mesir keturunan dari Rasulullah jadi Syarif Abdullah adalah Habaib  keturunan Nabi Muhammad SAW.

Syarif Hidayatullah menjadi raja pertama di Cirebon bertahta tahun 1479 dimana beliau menerima tahta ini setelah mendapat  mandat dari pamannya yaitu Raden Walangsungsang yang pada waktu itu menjadi akuwu (kepala daerah) di Cirebon.

Cirebon sendiri berasal dari kata Caruban yang berarti campuran. Hal ini dikarenakan, masyarakat di Cirebon mulai saat itu hingga saat ini banyak dipengaruhi aneka kultur budaya asing seperti Tiongkok, selain tentunya juga Jawa serta suku – suku lain dari berbagai wilayah di  Nusantara juga banyak berkumpul di Cirebon.

Keraton Cirebon mengalami masa kejayaan di masa pemerintahan Sunan Gunung Jati namun setelah beliau wafat, keraton ini pernah direbut oleh VOC tahun 1678 dimana bangunan Keraton ketika zaman pendudukan VOC mengalami renovasi. Oleh karena itu, seni arsitekturnya bertambah dengan adanya pengaruh dari Eropa. Selain campuran dari Sunda dari Jawa nusantara terdapat juga pengaruh Tionghoa karena pada waktu itu kultur dari Tiongkok juga mempengaruhi Cirebon, apalagi Sunan Gunung Jati sendiri memiliki istri dari Campa yaitu Putri Ong Tien Nio yang merupakan putri kaisar Tiongkok.

Bangunan Depan Keraton

Pada bagian depan keraton para pengunjung bisa menemui batu Lingga Yoni yang merupakan simbol dari kesuburan. Dilambangkan dengan dua jenis kelamin yaitu yang satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Ini menggambarkan bahwa kerajaan Cirebon memang layak untuk dihuni karena tanahnya subur.

Batu lingga yoni ini berada di kawasan yang dikelilingi oleh bangunan yang juga termasuk tertua di keraton ini  yang mirip dengan Candi Bentar, yaitu Sitihinggil. Pada masanya Sitihinggil  ini merupakan Balai pengadilan keraton atau podium kebesaran Raja. Pada masa itu Raja mengadili orang bersalah di tempat ini. (azizah)

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments