Sejak Kerajaan Mataram Islam, Solo Menjadi Sentra Perdagangan Nusantara

Salah satu tradisi masyarakat kota Solo (foto : Dedy Eka Timbul Prayoga /pixabay)

Menjelajahi Solo di masa lalu, seperti menyibak perjalanan sejarah yang sangat menarik. Begitu  banyak kisah-kisah yang tersembunyi dan belum begitu banyak orang mengenal tentang Solo di masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar, terutama Mataram.

Salah satu yang cukup menarik adalah peran dan kontribusi Solo menjadi hub atau pusat dari jalur perdagangan lintas wilayah dan bangsa. Solo yang kala itu memiliki banyak jalur sungai-sungai besar, mempunyai jalur transportasi air yang sangat vital bagi kapal-kapal besar pengangkut berbagai komoditas penting.

Salah satu perdagangan yang menonjol adalah industri batik yang sudah berumur lebih dari 5 abad (500 tahun). Tak hanya batik, namun bahan-bahan penunjang kain seperti kapas, benang dan kain tenun juga sudah menjadi bagian dari perekonomian Solo masa lalu.

Komoditas lain seperti garam, kopi dan rempah-rempah, juga menjadi komoditas perdagangan penting yang dibawa dari berbagai wilayah kerajaan di Nusantara ke Solo melalui jalur transportasi sungai.

Perdagangan Batik

Dikutip dari laman surakarta.go.id, Industri batik pernah mengalami zaman keemasan di wilayah Laweyan. Laweyan berasal dari kata Lawe yang memiliki arti bahan baku kain Laweyan inilah yang menjadi cikal bakal industri batik moderen Solo hingga saat ini.

Sejak era Kerajaan Pajang (Kartasura) pindah ke Solo, industri batik di Kampung Laweyan tak bisa lepas dari peran Kyai Ageng Henis. Kyai Ageng Henis menurunkan cucu bernama Danang Sutowijoyo (Panembahan Senopati), raja pertama Dinasti Mataram Islam. Industri batik tulis menjadi motor ekonomi dan perdagangan yang sangat berkembang pesat kala itu.

Kini Pemkot Surakarta gencar menggairahkan industri batik di Kampung Laweyan, melalui konsep paket-paket wisata sejarah. Para wisatawan diajak untuk mengenal batik dan berbelanja batik produksi warga Laweyan.

Tidak hanya menghidupkan penjualan batik, namun wisatawan diajak menikmati bangunan-bangunan kuno yang menjadi saksi bisu era keemasan batik Laweyan. Bahkan pengunjung juga diajak mengikuti program-program workshop mencoba terlibat cara membatik. Sensasi inilah yang menjadi batik semakin dekat dan disukai oleh wisatawan.

Pemkot Surakarta juga memfasilitasi paket-paket wisata yang menarik dengan menyediakan mulai dari wisata sejarah (kisah Kampung Laweyan dan arsitektur bangunan bergaya Jawa, Islam dan Eropa), wisata belanja (berbagai produk jadi pakaian batik), wisata industri (diajak menyaksikan proses pembuatan batik), wisata edukasi (merangkul dunia sekolah dan dunia pendidikan) dan wisata kuliner (aneka kuliner khas Laweyan).

Komoditas Lainnya

Tak hanya besar di komoditas batik, kawasan Solo juga sangat ramai dengan perdagangan rempah-rempah, mengingat jalur Bengawan Solo merupakan akses yang paling diminati sebagai lalu lintas perdagangan antar kerajaan.

Banyak kapal mengangkut komoditas garam yang berasal dari Gresik, Jawa Timur, yang dibawa ke Mataram. Sungai menjadi lintasan yang menjadi andalan kapal-kapal dagang tersebut, yaitu melalui jalur Sungai Brantas (Jawa Timur) yang berlanjut ke Bengawan Solo. Selain garam, sejumlah komoditi juga dibawa dari Gresik seperti keramik, ikan laut dan kain.

Kota ini juga dikenal sebagai sentra penghasil kopi di Jawa Tengah. Pada tahun 1800-an, kopi dari Solo bisa terdistribusi dengan baik melalui jalur sungai ke berbagai daerah. Bersamaan dengan kopi, Solo juga penghasil beras dan minyak kelapa. Kedua komoditas ini sering dikirim ke berbagai daerah di luar Solo.

Hingga kini, Solo sebagai salah satu urat nadi perdagangan di Indonesia juga masih sangat terasa. Pasar Klewer, misalnya, sebagai sentra penjualan batik dan kain serta tumbuhnya industri batik dengan brand-brand besar, masih bertahan dan terus tumbuh di Solo. ‘Trah’ perdagangan memang sudah menjadi bagian turun temurun Solo yaitu mulai Kerajaan Mataram hingga saat ini. (*)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments