Kota Sawahlunto Sudah Bhinneka Tunggal Ika sejak Abad 19

Salah satu gereja di kota Sawahlunto, Sumatera Barat. (klimaks.id)

Bagi warga Sawahlunto di Sumatera Barat, Bhinneka Tunggal Ika bukanlah hal yang baru. Namun sudah diterapkan sejak berabad-abad yang lalu, tepatnya sejak tahun 1800an. Demikian yang dinyatakan oleh Walikota Sawahlunto Deri Asta kepada klimaks.id.

Dijelaskan oleh Deri, pada 1888 ditemukan batubara dengan cadangan cukup besar di kota Sawahlunto.Lalu pemerintah kolonial Belanda saat itu memutuskan untuk membuat tambang batubara berskala besar di kota ini. Tambang batubara Sawahlunto saat itu menjadi tambang batubara terbesar sekaligus yang pertama di Asia Tenggara.

“Setelah menjadi kota tambang, Sawahlunto menjadi kota industri yang sangat maju saat itu yang otomatis juga menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai macam suku, ras, agama dan budaya. Mereka yang berasal dari berbagai macam profesi mulai dari pekerja tambang hingga pedagang berkumpul di sini”, jelasnya.

Kemajemukan masyarakat Sawahlunto terus berlanjut hingga saat ini dan kerukunan antar suku, agama dan ras tetap terjaga hingga sekarang. Masjid, gereja Khatolik dan gereja Protestan berdampingan di kota ini.

“Kerukunan di Sawahlunto menjadi bukti sekaligus contoh bahwa keragaman itu bisa dikembangkan dan melahirkan kekompakan yang luar biasa”, tambah Deri.

Walikota Sawahlunto Deri Asta. (foto : klimaks.id)

Budaya Tangsi

Keragaman penduduk di Sawahlunto, lanjut Walikota juga melahirkan budaya dan bahasa tersendiri yang merupakan perpaduan dari aneka budaya dan bahasa warga yang bermukim di Sawahlunto. Yaitu budaya dan bahasa Tangsi.

“Budaya dan bahasa Tangsi merupakan perpaduan budaya antara Minang, Jawa, Batak, Tionghoa dan Makasar. Hingga saat ini budaya dan bahasa tersebut masih dipakai oleh masyarakat di Sawahlunto, khususnya yang berada di kawasan Tangsi”, tambahnya.

Tangsi adalah kompleks perumahan karyawan tambang di Sawahlunto. (dianaS)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments