Legislator Kewalahan Hadapi Kemajuan Teknologi Digital

Ilustrasi teknologi digital (foto: vecteezy/suththirat suththisumdeang)

Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan menilai pesatnya perkembangan teknologi digital membuka peluang besar terhadap kemajuan. Namun demikian, pada sisi lain teknologi digital juga membawa tantangan besar, khususnya dalam membuat produk legislasi untuk mengaturnya.

“Pertanyaan besarnya, bagaimana AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan) dan akibat hukumnya? Negara harus merespons hal itu. Sayangnya responsnya masih normatif. Saya khawatir kita memang belum terlalu menguasai, apa yang harus kita lakukan menghadapi perkembangan teknologi yang sangat cepat ini,” ujar Farhan dalam diskusi bertajuk ‘Sikap dan Kebijakan Indonesia tentang Kecerdasan Buatan’ yang diselenggarakan Forum Diskusi Denpasar (FDD) 12, di Jakarta, beberapa hari lalu

¬†Farhan khawatir pesatnya perkembangan teknologi digital belakangan ini tidak bisa diimbangi dengan pembuatan produk hukum untuk mengaturnya. Kemampuan legislator harus terus di perbarui mengejar perkembangan zaman. “Rasanya cukup sulit kemampuan legislasi kita mengejar cepatnya perkembangan teknologi,” ujarnya.

Politisi Fraksi Partai NasDem ini mengatakan, kesulitan dalam membuat produk legislasi terkait teknologi digital tidak hanya dialami Indonesia. Menurutnya, seluruh negara di dunia mengalami kebimbangan dalam hal itu. Ia mencontohkan terkait concern pembuatan UU dengan mempertimbangkan kebebasan dan perlindungan. Kebimbangan juga terjadi dalam pembahasan revisi UU Informasi dan Transaksi Elekronik (ITE).

“Setiap pembentukan legislasi memang selalu menghadapi dilema yang luar biasa. Seperti yang kita alami sekarang saat membahas revisi UU ITE, yaitu dilema antara kebebasan versus perlindungan,” jelas Farhan, seperti yang dikutip dari laman resmi DPR.

Pada akhirnya, lanjutnya, memang harus diputuskan sejauh mana negara menerima hadirnya teknologi digital dengan mempertimbangkan risiko-risiko yang ada. “Termasuk risiko terhadap perlindungan data pribadi kita,” imbuhnya.

Meski banyak tantangan, perkembangan teknologi digital tidak harus serta merta ditolak karena banyak juga membawa manfaat. Farhan mencontohkan, salah satu manfaatnya ialah demokratisasi ekonomi. “Teknologi digital sebagai salah satu platform untuk meluaskan demokrasi, salah satunya demokrasi ekonomi. Yang kita harapkan demokratisasi ekonomi lewat dunia digital akan menghilangkan gap antara si kaya dan si miskin,” tutupnya. (*)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments