Menumbuhkan Minat Baca Dengan Mendirikan Perpustakaaan Mini di Kemayoran

Kegiatan di perpustakaan mini Darul Yatim, Kemayoran. (foto : isttimewa)

 

oleh

Leksi Hedrifa, Pustakawan Ahli Madya Perpustakaan Nasional

 

Sebagai seorang Pustakawan yang bekerja di Pepustakaan Nasional RI tentunya berkewajiban untuk mengembangkan,  melestarikan dan memajukan dunia Kepustakawanan. Bukan hanya melestarikan minat baca masyarakat tetapi lebih dari itu bagaimana agar kegemaran membaca pada masyarakat dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Bektuk partisipasi seorang pustakawan didalam kehidupan social bemasyarakat berbeda-beda tergantung kepada minat dan inovasi pustakawan itu sendiri.

Sedikit cerita tentang inovasi yang pernah saya lakukan sebagai seorang pustakawan adalah ketika mendirikan perpustakaan mini di daerah Kemayoran Jakarta Pusat, disebut perpustakaan mini karena memang perpustakaan tersebut belum memiliki kelayakan sebagai perpustakaan yang sebenarnya, hal ini terkait dengan jumlah koleksinya yang masih sangat terbatas, gedungnya dan sarana prasarana serta pengelolanya yang masih apa adanya. Perpustakaan yang saya prakarsai bersama masyarakat setempat merupakan perwujudan keinginan dari para orang tua yang khawatir melihat aktifitas anak-anak mereka pada hari-hari libur dan setelah pulang sekolah. Sebagai sebuah daerah yang berlokasi ditengah padatnya penduduk yang rata-rata memiliki kemampuan ekonomi menengah kebawah serta aktifitas pasar rakyat yang sibuk setiap harinya, orang tua di daerah tersebut tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengawasi anak-anak mereka setelah pulang sekolah dan di hari libur, tidak heran kalau pada jam- jam pulang sekolah hingga malam hari anak-anak kecil masih berkeliaran di daerah pasar kemayoran tersebut. Hal ini sering menjadikan kewajiban mengerjakan pekerjaan rumah menjadi terabaikan, karena kesibukan orang tua dan keasikan bermain anak-anak di luar rumah. Melihat keadaan inilah pemuka masyarakat dan pengurus masyarakat yang ada di wilayah tersebut meminta saran bagaimana solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Pada awalnya ide mendirikan perpustakaan mini ini hanya terbatas untuk anak-anak yang tergabung dalam yayasan Darul Yatim Kemayoran, tetapi karena antusias warga yang juga memiliki anak dalam mendukung kegiatan ini, maka akhirnya ide perpustakaan mini ini berkembang menjadi perpustakaan yang dibuka untuk umum, dikelola secara bersama oleh masyarakat dan berlokasi di Kantor RW setempat.

Perpustakaan mini ini diresmikan setelah menunggu kantor RW di bangun, karena pada awalnya kantor RW yang akan dijadikan sebagai tempat perpustakaan ini berada merupakan sebuah bangunan yang berdiri diatas bantaran sungai yang sangat berbahaya untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan yang akan melibatkan anak anak nantinya. Bangunan yang sudah tua diatas bantaran sungai, ditengah pasar yang sibuk, begitulah kira-kira gambaran untuk tempat yang akan dijadikan sebagai perpustakaan mini tersebut. Setelah pembangunan kantor baru yang permanen dan lebih layak maka barulah perpustakaan mini ini bisa diwujudkan.

Pengunjung perpustakaan mini Darul Yatim saat ini adalah masyarakat sekitar yang terdiri dari  anak-anak, remaja dan orang tua yang ingin memanfaatkan perpustakaan mini ini. Anak-anak seringkali berkumpul disini pada akhir minggu, karena perpustakaan ini baru bisa beroperasi dalam waktu yang sangat tebatas, karena kurangnya tenaga pengelola perpustakaan, tenaga yang ada saat ini adalah sukarelawan yang terdiri dari remaja-remaja karang taruna setempat yang setiap harinya juga memiliki aktifitas rutin seperti sekolah atau bekerja, sehingga belum ada tenaga pengelola yang bertugas tetap. Disamping itu juga belum adanya dana yang bisa digunakan untuk membayar tenaga yang bisa mengelola perpustakaan mini ini secara khusus.koleksi yang dimiliki masih terbatas pada buku-buku untuk menunjang pelajaran disekolah dan sedikit buku cerita serta sarana edukasi anak-anak.koleksi ini merupakan sumbangan donatur karena perpustakaan ini belum memiliki dana untuk perpustakaan, Walaupun demikian antusiasme masyarakat sekitar patut dibanggakan, dengan segala keterbatasan tapi mereka tetap semangat untuk mewujudkan perpustakan sendiri di wilayahnya.

Kegiatan yang dilakukan di perpustakaan ini pada akhir pecan biasanya adalah mendongeng, membaca dan bermain edukasi bersama. Lomba mengambar dan mewarnai dan lain sebagainya.Kedepannya diharapkan perpustakaan mini ini dapat lebih maju lagi, kita masi menunggu donatur-donatur lain yang tergerak hatinya untuk memperkaya koleksi perpustakaan Darul Yatim ataupun memberikan sumbangan dalam bentuk apapun agar kegiatan di pepustakaan mini ini dapat lebih lancar lagi. Target jangka pendek dari perpustakaan ini adalah bagaimana agar perpustakaan mini Darul yatim bisa dibuka setiap hari sehingga pemustaka bisa memanfaatkan jasa layanan perpustakaan mini Darul Yatim, tentunya untuk itu koleksi diperpustakaan harus diperbanyak dan ada petugas yang mengelola yang bisa dibayar untuk pekerjaannya tersebut. Sedangkan target jangka panjangnya adalah menjadikan Perpustakaan Darul Yatim sebagai sebuah perpustakaan yang sesungguhnya yang dapat menjalankan fungsi sebagai pusat baca dan  pengembangan Ilmu Pengetahuan untuk Peningkatan Literasi masyarakat berbasis inklusi sosial. (*)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments