Pemkota Yogya Bakal Melakukan Revolusi Sampah

Pemilahan sampah organik dan non organik di Kota Yogyakarta (foto :jogjakota.go.id)

Masalah sampah di kota Yogyakarta saat ini sudah sampai pada tahap mendapat perhatian khusus, karena Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, sudah hamper penuh. Mulai dari pengolahan sampah dari sumber atau hulu masyarakat sampai tingkat kota Sehingga harus dilakukan Revolusi Sampah yang melibatkan masyarakat.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya menjelaskan, jika tidak ada langkah – langkah khusus, diperkirakan TPA Piyungan pada akhir 2023 tidak akan bisa dipergunakan lagi karena penuh. Sementara revitalisasi TPA Piyungan oleh Pemda DIY diperkirakan paling cepat beroperasional pada 2026. Untuk itu pihaknya mulai melakukan revolusi sampah dan menyiapkan alternatif pengolahan sampah organik di luar kota.

“Revolusi sampah dilakukan dengan cara pengolahan sampah anorganik di sumber sampah masyarakat di Kota Yogyakarta dan pengolahan sampah organik di luar kota Pemerintah Kota Yogyakarta akan mewajibkan pemilahan sampah organik dan anorganik. Hanya sampah organik yang boleh dibuang ke tempat pembuangan dan sampah anorganik dikelola di bank sampah”, tegasnya.

Dilanjutkan oleh Aman, seperti yang dikutip dari jogjakota.go.id, sampah anorganik harus berhenti di sumber sampah di masyarakat. Jadi tidak boleh lagi  sampah anorganik dikirim ke TPA. Sampah anorganik harus selesai di sumber sampah. Ini menjadi kebijakan Pemkot Yogyakarta yang sedang dirumuskan peraturannya oleh Pemkot Yogya dan ditargetkan rampung akhir Desember nanti.

Untuk pengolahan sampah anorganik dari sumber atau hulu di warga, Pemkot Yogyakarta akan melibatkan forum bank sampah sebagai partner. Forum bank sampah bertugas untuk mengendalikan sampah anorganik berbasis keluarga. Untuk itu nantinya diwajibkan melakukan pemilahan sampah anorganik dan organik sejak dari hulu di keluarga, perkantoran, pasar, rumah sakit, hotel dan restoran.

Sampah yang sudah dipisah untuk anorganik dikelola dan dimodifikasi menjadi produk maupun dijual ke bank sampah atau pelapak. Pelapak sampah akan dikoordinasi di tingkat kota. Selain itu akan dilakukan koordinasi dengan para penggerobak sampah sebagai filter pengendali sampah. Penggerobak sampah akan dikoordinasikan di tingkat kota dan diberikan kartu anggota agar memiliki hak dan kewajiban.

Volume sampah dari Kota Yogyakarta ke TPA Piyungan sekitar 260 ton setiap hari. Sebagian sampah  yang dibuang ke TPA Piyungan sekitar 43 persen adalah sampah anorganik. Sementara 57 persen sampah organik. Pemkot Yogyakarta  ingin mengurangi pengiriman sampah anorganik itu ke TPA Piyungan.(*)

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments