Puan: Ketahanan Pangan Penting, Tapi Petani Juga Harus Sejahtera

Ketua DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani melakuan dialog dengan petani dan warga Desa Haurngombong, Pamulihan, Sumedang, Jawa Barat. (foto: dpr.go.id

 Agenda ketahanan pangan merupakan seusatu hal yang penting, namun kesejahteraan petani juga harus diperhatikan. Demikian yang diungkapkan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani saat menggelar dialog dengan petani dan warga Desa Haurngombong, Pamulihan, Sumedang, Jawa Barat.

Menurutnya, kemajuan pertanian penting untuk menunjang ketahanan pangan Indonesia. Meski begitu, masih ada sejumlah persoalan yang perlu diatasi untuk mencapai ketahanan pangan. “Ketahanan pangan penting. Apalagi mayoritas warga kita petani. Ketahanan pangan bukan hanya berarti pasokan pangan dalam negeri kita tercukupi, tetapi juga berarti petani kita produktif dan harus sejahtera,” kata Puan, beberap hari lalu.

Sekitar 3.000 warga, termasuk dari kalangan petani hadir dalam acara dialog bersama perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu. Dalam kesempatan itu, kelompok tani mendapat bantuan berupa benih padi dan benih jagung masing-masing untuk 50 Ha, serta benih pisang cavendish dan benih jagung manis masing-masing untuk 30 Ha.

“Saya datang bawa bantuan untuk para petani. Laporkan kalau setelah saya pulang barang ini tidak diterima oleh Gapoktan, laporkan kepada saya. Yang belum mendapat bantuan, tulis surat apa saja yang dibutuhkan. Insyaallah saya bantu solusinya,” imbuh mantan Menko PMK itu.

Sejumlah perwakilan warga kemudian diminta untuk menyampaikan aspirasinya. Seorang ibu dari Kelompok Wanita Tani (KWT) bernama Dessi mengucapkan terima kasih atas bantuan dari DPR yang memfasilitasi pemberian bibit bagi masyarakat. “Mandat bantuan sudah kami rasakan, kami sudah memanfaatkan lahan halaman untuk menanam sayuran. Produk sudah dipasarkan tapi kurang sarana transportasi. Kami mohon bantuan agar bisa masuk pasar modern,” ungkapnya.

Sementara itu warga bernama Hadiguna mengatakan, ubi cilembu yang merupakan ikon daerah Haurngombong menjadi ubi unggulan dan sudah masuk pasar global. Bahkan kebutuhannya mencapai 50 ton dalam sehari. “Tapi produksi 50 ton tidak bisa terpenuhi karena kekurangan lahan. Kalau ada HGU (hak guna usaha) lahan, kami minta memanfaatkannya,” tutur Ketua Asosiasi Ubi Petani Cilembu tersebut.

Kemudian petani sapi perah bernama Juju Suwanta menyampaikan keluh kesahnya karena produksi yang terus menurun. “Karena bibit sapi unggul sudah tidak ada lagi. Mohon ada bibit unggul sapi perah,” harap Juju yang berbicara dengan Puan menggunakan Bahasa Sunda.

 Lalu ada juga warga yang meminta dukungan fasilitas akses jalan baru untuk memudahkan distribusi hasil pertanian dari wilayah mereka menuju ke Lembang, Bandung Barat. Warga pun berharap agar infrastruktur jalan antar desa diperbaiki untuk memperlancar transportasi. “Soal akses jalan ini medannya berat. Harus lewat pegunungan dan statusnya bukan jalan nasional. Tapi di UU baru, Pemerintah pusat sudah bisa intervensi pembuatan jalan seperti ini. Intinya akan kami bantu. Untuk jalan desa juga tinggal ditindaklanjuti secara teknis,” papar Puan.

Terkait harapan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang disampaikan sejumlah ibu-ibu, Puan mengatakan siap mendorong agar anggaran dari Pemerintah ditambah. Puan juga mengatakan akan membantu alat transportasi untuk menunjang hasil program P2L. “Kebutuhan seluruh kelompok wanita akan saya bantu. DPR siap mendukung kemajuan pertanian. Apalagi di sini penghasil ubi cilembu, saya suka sekali ubi. Nanti bibitnya kami tambah. Dan urusan sapi perah. Bibit unggul di Lembang sudah ada. Nanti dikirim ke sini,” terang Puan. (dpr.go.id)

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments