Gedung Museum Sejarah Jakarta Dulunya Tempat Eksekusi Hukuman Gantung

Gedung Museum Sejarah Jakarta menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi masyarakat. Di tempat inilah pada jaman dahulu sering dilakukan eksekusi hukuman mati bagi penduduk yang melakukan kejahatan berat. (Foto: Ist)

Gedung Museum Sejarah Jakarta pada jaman penjajahan Belanda digunakan sebagai Balai Kota (Stadhuis) atau pusat pemerintahan kota.Gedung Stadhuis, yang kini dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah ini dibangun (hingga bentuknya seperti sekarang) oleh Gubernur Jenderal VOC Joan Van Hoorn ( 1706).

Stadhuis  yang kini dijadikan sebagai objek wisata sejarah  juga merupakan saksi bisu adanya prosesi hukuman gantung yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda.Mereka yang divonis pengadilan dan dijatuhkan hukuman gantung ini umumnya adalah pencuri, pemerkosa, dan pembunuh yang dianggap meresahkan masyarakat waktu itu.

Eksekusi hukuman mati yang digelar di halaman Stadhuis atau Balai Kota Batavia ini menjadi sebuah tontonan gratis masyarakat Batavia. Mengutip buku “Batavia Kota Hantu” (2010) yang ditulis Alwi Shahab, ternyata sehari sebelum eksekusi, kompeni Belanda blusukkan ke kampung-kampung.

Mereka mengimbau penduduk kampung di Batavia untuk datang menyaksikan hukuman gantung tersebut. Saat tiba hari eksekusi hukuman mati, masyarakat pun memenuhi halaman Stadhuis. Kompeni pun membuat pagar betis untuk menghindari kekacauan.

Salah satu hukuman gantung yang menjadi legenda masyarakat Batavia, terjadi pada sosok konglomerat berdarah Tiongkok bernama Oey Tambahsia (Oei Tambah Sia). Pria tampan pada jamannya ini sering menghambur-hamburkan uang untuk berjudi dan juga mabuk-mabukan, serta main perempuan.

Bahkan tak jarang Oey yang dibantu para pengawalnya (jawara) “memburu” gadis- gadis cantik dan wanita yang telah bersuami. Selain itu, Oey juga sering memerintahkan centengnya itu untuk melakukan pembunuhan terhadap orang- orang yang tidak disukainya.

Polisi kolonial Belanda sering mendapat laporan sepak terjang Oey yang meresahkan masyarakat tersebut. Penyelidikan mendalam terhadap Oey pun segera dilakukan dengan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan yang diduga pernah dilakukannya.

Sepandai- pandainya menyimpan rahasia – berdasarkan bukti dan saksi – akhirnya kejahatan Oey terungkap jelas. Setelah melalui persidangan, pria yang dijuluki playboy Batavia ini pun dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung.Penduduk Batavia ketika itu menganggap ini adalah sebuah tontonan. Mereka pun memadati halaman Stadhuis. Untuk menyaksikan hukuman gantung atau bahkan penggal kepala – penduduk Batavia rela berdesakan.

Stadhuis Dirobohkan

Stadhuis atau yang kini dikenal sebagai Museum Fatahillah ini pernah beberapa kali dibangun.Untuk pertama kalinya Stadhuis didirikan oleh Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszeoon Coen pada tahun 1620. Kemudian dalam perjalanan sejarah, Gedung Stadhuis pernah porak poranda hingga roboh akibat serangan pasukan Mataram yang menyerang Batavia.

Selanjutnya Gedung Stadhuis, yang kini berada di kawasan objek wisata Kota Tua, dibangun kembali oleh Gubernur Jenderal VOC Johan Van Hoorn dan juga kemudian memperluas bangunannya (akhir abad 18). Selain sebagai tempat penahanan mereka yang melakukan tindakan kriminal, Stadhuis juga dijadikan sebagai lokasi tahan politik ketika itu. Pangeran Diponegoro bersama istrinya Raden Ayu Retnoningsih dan adik perempuannya, Raden Ayu Dipowiyono pernah dipenjara di tempat ini. (Gus)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments