Singa Berber, Raja Hutan yang Pernah Tarung Dengan Gladiator Romawi

Singa Berber pernah dinyatakan punah, namun keberadaannya mulai terdeteksi. Ternyata banyak dipelihara oleh bangsawan- bangsawan Maroko. (Foto: Ilustrasi)

Singa Berber (Panthera leo leo) pernah dinyatakan punah pada tahun 1922. Seorang pemburu  Maroko telah mengakhiri hidup hewan buas tersebut.Pada masa lalu, hewan ini hidup berkeliaran di gurun dan pegunungan Afrika Utara, mulai dari Maroko.

Konon singa berber ini sangat dikagumi dan tidak jarang  menjadi satwa peliharaan para bangsawan Maroko dan negara-negara Afrika Utara lainnya. Karena kebuasannya, singa Berber ini juga ditangkapi dan dibawa ke pusat kota kekaisaran Romawi kuno untuk bertarung dengan para gladiator di Colosseum Roma.

Bahkan banyak juga yang menjadi penghuni kebun binatang di Eropa. Serta sempat menghuni London Tower pada akhir abad ke-13. Akibat dari pertarungan itu, bangsa Romawi telah membunuh ribuan singa Berber dalam permainan mereka.

Di sisi lain juga  kerajaan-kerajaan Arab memburu hewan ini hingga hanya tersisa di beberapa wilayah lebih kecil saja. Hal ini kemudian diperparah dengan kedatangan pemburu dari bangsa-bangsa kolonial Eropa yang pada abad ke-19 menghabisi hewan itu.

Kini, para ilmuwan sepakat bahwa tak diragukan lagi singa berber sudah punah di alam liar. Tetapi bisakah mereka tetap ada di penangkaran? Beberapa kebun binatang di seluruh dunia mengklaim memiliki singa berber dalam koleksi mereka. Meski begitu, kemungkinan besar, singa-singa di kebun binatang itu bukanlah singa berber asli, melainkan hibrida dengan singa dari Afrika sub-Sahara.

Apakah singa Berber benar telah punah dari muka bumi? Kebun Binatang Rabat di ibu kota Maroko, mengklaim memiliki 38 individu singa berber asli (bukan hibrida) yang diperoleh dari koleksi-koleksi bangsawan Maroko di masa lalu.

Hewan langka itu dipelihara hingga tahun 1969, sebelum menyerahkannya kepada Kebun Binatang Rabat. Para ahli terus berdiskusi untuk melepasliarkan singa berber di gurun di Afrika Utara.

Simon Black, seorang guru besar di School of Anthropology & Conservation, University of Kent menyatakan hal ini bisa dilakukan. Menurut Simon, kawasan luas Afrika Utara sangat cocok sebagai tempat reintroduksi.

Namun demikian perlu upaya besar, serius, dan berkelanjutan untuk menyediakan populasi mangsanya, seperti rusa, babi hutan, domba barbar, dan kijang yang sebagian spesies ini juga terancam punah. (Gus)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments